SELAYANG PANDANG


GPIB Jemaat CIPEUCANG

GPIB Jemaat CIPEUCANG merupakan salah satu Jemaat dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat atau De Protestantse Kerk In Westelijk Indonesie yang dilembagakan pada tanggal 30 April 2017 sebagai Jemaat yang ke-323, setelah sebelumnya menjadi bagian dari GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi - Bakal Jemaat (BAJEM) Cipeucang.


Jemaat Mula-Mula (Periode 1977-1979)

Meski baru didewasakan sejak 30 April 2017 lalu, namun sesungguhnya awal perjalanan hadirnya GPIB di daerah Cipeucang - Jonggol ini telah dimulai jauh sebelumnya ketika datangnya para tenaga pengajar (Guru) Inpres yang berasal dari berbagai daerah yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Maluku dan Sumatera Barat. Para Guru ini diangkat dan ditugaskan pada tahun 1977 oleh Pemerintah Pusat dan ditempatkan pada 3 Kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur.

Setidaknya terdapat 17 guru di Kecamatan Cileungsi dan 15 guru di Kecamatan Jonggol yang kemudian berkerinduan untuk bersekutu dan beribadah di gereja-gereja yang sudah ada di daerah tersebut. Pada waktu itu baru ada 1 Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Kampung Cigelam, Kec. Setu, Kab. Bekasi untuk wilayah yang terdekat dengan Kec. Jonggol, dan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Kampung Pasar Lama Cileungsi; sementara jemaat GPIB terdekat baru ada di GPIB Jemaat ZEBAOTH Bogor yang aksesnya masih relatif jauh untuk dijangkau dari Jonggol.

Selain GKP Cigelam dan GPdI Pasar Lama tersebut pada 24 Juli 1977 hadir pula Badan Musyawarah Karyawan (BMK) PT. Semen Cibinong seiring dengan dibukanya Pabrik Semen Kujang sejak tahun 1973 yang kemudian diikuti juga oleh sebagian guru Inpres yang bekerjasama dengan Seksi Kerohanian Kristen PT. Semen Cibinong. Persekutuan ini terus berkembang dengan ibadah Minggu yang dilaksanakan di gedung Sekolah Dasar PT. Semen Cibinong dan nantinya menjadi cikal bakal dari Jemaat GPIB "Damai Sejahtera" Cileungsi.


Gereja Kristen Pasundan Cigelam (Periode 1980-1982)

GKP Cigelam merupakan salah satu jemaat Gereja Kristen Pasundan yang pelayanannya di tanah Pasundan ini telah dimulai sejak 1851 ketika pada awalnya menjadi bagian dari 9 Pos Pekabaran Injil Genootschap voor Inen Uitwendige Zending te Batavia (GIUZ) yang dirintis oleh Mr. Frederik Lodewijk Anthing, sang "Rasul dari Jawa" sehingga disebut "jemaat-jemaat Kristen Pribumi Anthing" atau "Anthingsche Christen-Inlandsche Gemeenten" yaitu Jemaat di Kampung Sawah, Pondok Melati, Gunung Putri, Cigelam, Cikuya, Tanah Tinggi, Cakung, Ciater dan Karawang. Pos-Pos Pekabaran Injil tersebut berdiri secara mandiri dan terpisah satu dengan yang lain hingga sepeninggal Mr. F.L. Anthing jemaat-jemaat ini kemudian bergabung dengan badan penginjilan Belanda Nederlandse Zendelings Vereeniging (NZV) dan akhirnya pada 14 November 1934 diresmikan sebagai Gereja Kristen Pasundan atau De Christelijke Kerk Van West Java.

Berkembangnya persekutuan karyawan di PT. Semen Cibinong kemudian turut memberikan semangat dan menambah warna baru dalam kegiatan ibadah dan pelayanan para Guru Inpres tersebut di GKP Cigelam menjelang tahun 1980. Beberapa guru pun diangkat sebagai Majelis di GKP Cigelam, yaitu Bapak Corneles Komsary dan Bapak Dominggus Leatomu sebagai Penatua.

Meskipun diperhadapkan dengan kondisi topografi daerah Jonggol yang berbukit-bukit dan dipenuhi hutan lebat pada saat itu serta belum memiliki transportasi umum yang memadai sehingga aktivitas perjalanan masih banyak ditempuh dengan berjalan kaki, namun hal itu tidak menyurutkan langkah para Guru ini untuk tetap bersekutu dan melayani. Ibadah Natal yang pertama kalinya di tahun 1978 pun dapat terlaksana secara oikumene yang difaslitasi oleh Pembantu Bupati pada saat itu Bapak Syamsudin yang bertempat di Pendopo Kewedanaan Jonggol.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan ibadah semakin berkembang dengan mulai digagasnya Kebaktian Rumah Tangga yang dilaksanakan terbatas di kalangan guru dari rumah ke rumah, hingga kemudian setelah dirasakan kegiatan itu semakin meningkat maka para guru tersebut melepaskan jabatan mereka sebagai Majelis agar bisa lebih fokus dengan kegiatan ibadah rutin di rumah, namun demikian mereka masih tetap mengikuti ibadah hari Minggu di GKP Cigelam.

Beberapa keluarga yang melaksanakan ibadah di rumah-rumah diantaranya:

  1. Keluarga Corneles Komsary
  2. Keluarga Simon Laturaliuw
  3. Keluarga Dominggus Leatomu
  4. Keluarga Simon Dakdakur
  5. Keluarga Garadus Sumah
  6. Keluarga Melianus Rangkoratat

Kegiatan ibadah rumah tangga terus berlangsung dengan pesat dan Jemaat Mula-Mula ini perlahan mulai meninggalkan kegiatan pelayanan di GKP Cigelam, sementara itu mereka semakin bertumbuh dalam persekutuan kecil ini hingga akhir tahun 1983 bertambah lagi beberapa keluarga:

  1. Keluarga Stevanus Sugiarto
  2. Keluarga Rudy Leonard Noya
  3. Keluarga Mathias Basaur
  4. Keluarga Petrus Sumual

Persekutuan Yang Mandiri (Periode 1984-1985)

Embrio jemaat mulai terbentuk dalam persekutuan yang mandiri melalui kegiatan-kegiatan ibadah di rumah yang dilakukan secara bergiliran dan berkesinambungan. Di awal tahun 1984 persekutuan ini mulai memberikan dampaknya sebagai saksi Kristus dengan bertambahnya anggota-anggota jemaat dari latar belakang iman yang berbeda seperti:

  1. Keluarga Adon Sunarto (Kong Hu Cu)
  2. Sdri. Asmi Yuni (Kong Hu Cu)
  3. Sdr. Tatang (Muslim)

Kemudian di bulan berikutnya hadir seorang Evangelis dari Irian Jaya (Papua) yang bernama Marthen Luther Awoy, yang kemudian membantu mengembangkan persekutuan ini menjadi semakin intensif hingga bertambah lagi beberapa keluarga guru yang ditugaskan ke daerah Cileungsi diantaranya:

  1. Keluarga Melkias Nureroan
  2. Keluarga Aser Jusak Nureroan
  3. Keluarga Jakonias Betoky

Cikal Bakal Gereja (Periode 1984-1985)

Menjelang akhir 1985 jumlah keluarga yang bergabung sekitar 16 keluarga dan juga beberapa simpatisan yang terus mengembangkan pelayanan hingga ke Kec. Cibarusa dan Kec. Cariu di Desa Pasir Tanjung.

Sejak 1982 Jemaat mulai memikirkan untuk mengadakan kegiatan ibadah yang tetap di hari Minggu namun belum memiliki tempat dan gedung yang memadai, hingga tergeraklah Keluarga Bpk. Stevanus Sri Sugiarto yang memiliki sebuah rumah peternakan ayam di Kampung Menan - Jonggol untuk dijadikan sebagai tempat Ibadah Minggu; sedangkan keluarga tersebut tinggal mengontrak tidak jauh dari lokasi peternakan. Maka dibentuklah tim kerja untuk melakukan renovasi di rumah Kel. Stevanus Sri Sugiarto yang akan dijadikan tempat beribadah dengan di bawah koordinasi Ev. Marthen Luther Awoy:

  1. Stevanus Sri Sugiarto (Wakil Koordinator)
  2. Melianus Rangkoratat (Sekretaris )
  3. Corneles Komsary
  4. Simon Laturaliuw
  5. Dominggus Leatomu
  6. Simon Dakdakur
  7. Garadus Sumah
  8. Johan Manakutty

Ibadah perdana di hari Minggu kemudiandilayani oleh Pdt. Siregar dari Jakarta dengan menggunakan tata ibadah yang bercorak kharismatik/Pentakosta. Karena sebagian jemaat merasa kurang cocok dengan bentuk ibadah tersebut maka Ev. Marthen Luther Awoy beserta beberapa orang jemaat (Bpk. Melkias Nureroan, Bpk. Aser Jusak Nureroan, Bpk. Stevanus Sugiarto dan Bpk. Mathias Basaur) berinisiatif untuk mencari dan bernaung ke gereja lain yang sudah dilembagakan dan diakui oleh Pemerintah dengan corak tata ibadah yang sesuai dengan latar belakang mereka seperti GPM (Gereja Protestan Maluku), maka diutuslah Ev. Marthen Luther Awoy dan Bpk. Melkias Nureroan ke daerah Cawang, namun disana mereka kemudian direkomendasikan untuk mencari gereja di daerah Bogor karena Cileungsi dan Jonggol masih termasuk wilayah pelayanan Bogor.


GPIB Jemaat PETRA Cibuluh/Ciluar Bogor (Periode 1985-1986)

Pada 13 Desember 1981 GPIB Jemaat PETRA Bogor dilembagakan sebagai Jemaat GPIB yang ke-143, setelah sebelumnya merupakan bagian dari Sektor Pelayanan 14, 15, 16 dan 17 GPIB Jemaat ZEBAOTH Bogor. Secara geografis gereja ini terletak sejauh 36,7km di Kelurahan Cibuluh Kec. Bogor Utara sebelah barat daya Cipeucang - Jonggol, namun akses jalan pada saat itu masih relatif lebih terhubung dengan baik dibandingkan ke arah Depok dan Bekasi, sedangkan dalam pencarian Bpk. Mathias Basaur ke Jemaat POSPEL GPIB Jemaat ZEBAOTH Bogor yang ada di Cibinong (cikal bakal dari GPIB PENGHARAPAN Cibinong) juga direkomendasikan untuk menghubungi GPIB Jemaat PETRA Bogor yang telah berstatus jemaat dewasa, dengan demikian maka Ev. Marthen Luther Awoy pun kemudian mengunjungi GPIB Jemaat PETRA Bogor yang kebetulan tengah melangsungkan Rapat Pleno (Sidang) Majelis Jemaat sehingga maksud dan tujuan Ev. Marthen Luther Awoy dapat langsung dibahas dalam sidang tersebut. Dengan mempertimbangkan permohonan dan penjelasan dari Ev. Marthen Luther Awoy akhirnya Rapat Pleno Majelis yang dipimpin oleh KMJ Pertama GPIB Jemaat PETRA Bogor Pdt. Nn. Lucie Sairlela, S.Th menyambut baik permintaan itu dengan membentuk persekutuan jemaat yang ada di wilayah Cipeucang dan sekitarnya menjadi bagian dari warga jemaat Pos Pelayanan (POSPEL) Jonggol - GPIB PETRA Bogor pada Agustus 1985.

Maka dibentuklah Pengurus Transisi untuk menjembatani antara jemaat di Jonggol dengan GPIB Jemaat PETRA Bogor sehingga kegiatan ibadah dan pelayanan kemudian bisa mengikuti serta mengadopsi corak dan Tata Gereja GPIB dengan baik. Adapun Pengurus Transisi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ev. Marthen Luther Awoy (Ketua)
  2. Bpk. Stevanus Sri Sugiarto (Wakil Ketua)
  3. Bpk. Melianus Rangkoratat (Sekretaris)
  4. Sdri. Asmi Yuni (Bendahara)

Pengurus Transisi ini bertugas hingga Oktober 1986 dan tercatat sebanyak 28 keluarga yang terdaftar di Pospel Jonggol dengan anggota sebanyak 72 jiwa. Selain itu terdapat pula beberapa anggota binaan yang telah siap untuk diteguhkan menjadi warga sidi jemaat baru yaitu:

  1. Sdr. Adon Sumarto (Kong Hu Cu)
  2. Sdri. Asmi Yuni (Kong Hu Cu)
  3. Sdr. Tatang (Muslim) dengan nama baptis: Titus Theofilus
  4. Sdr. Soleman Dakdakkur
  5. Sdr. Mathias Basaur

Setelah mendapat pembinaan, maka pada tanggal 23 Maret 1986 kelima Saudara tersebut diteguhkan bersama dengan para anggota sidi baru GPIB Jemaat PETRA Bogor dan dengan demikian merupakan warga sidi jemaat pertama di POSPEL Jonggol.


Pos Pelayanan (POSPEL) Jonggol (Periode 1986-2000)

Pada tahun 1988 Pdt. Jan Dominggus Tuasuun S.Th diutus untuk menggantikan Pdt. Nn. Lucie Sairlela, S.Th melalu mutasi pendeta di GPIB Jemaat PETRA Bogor, dan kemudian beberapa anggota jemaat diteguhkan sebagai Majelis sekaligus menjadi Pengurus POSPEL Jonggol untuk Periode 1986-1990 yaitu:

  1. Pnt. Melianus Rangkoratat (Ketua Koordinasi)
  2. Pnt. Corneles Komsary (Sekretaris)
  3. Dkn. Rudy Leonard Noya (Bendahara)
  4. Dkn. Stevanus Sri Sugiarto

Dengan diteguhkannya Majelis dan Pengurus POSPEL Jonggol maka intensitas pelayanan menjadi lebih baik lagi hingga akhir 1986 bertambah beberapa keluarga terdaftar:

  1. Kel. Willem Romroma
  2. Kel. Junus Samuel Momot
  3. Kel. Tumbar Aritonang
  4. Kel. Horas Pandiangan
  5. Kel. Dona Situmorang
  6. Kel. Johan Manakutty

Dengan demikian jumlah jemaat di tahun 1986 adalah 33 kepala keluarga dengan jumlah jiwa 102 orang.


Tragedi Pembakaran 1991

Sejak digunakannya rumah Keluarga Bpk. Stevanus Sri Sugiarto sebagai tempat ibadah Minggu di POSPEL Jonggol hampir tidak ada hambatan maupun keberatan dalam melakukan kegiatan ibadah dari lingkungan dan warga sekitar Jonggol dan Cipeucang, hingga pada awal tahun 1987 muncul gugatan dari pihak pemilik tanah peternakan yang merupakan kakak dari Bpk. Stevanus Sri Sugiarto yaitu Drs. Siswandi yang kebetulan berbeda iman dengan adiknya.

Pertikaian terkait tanah tersebut terus berlanjut hingga keluarga Bpk. Stevanus Sri Sugiarto dituntut untuk meninggalkan tempat itu dan menghentikan usaha peternakannya, padahal usaha peternakan tersebut sedang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Berbagai tekanan mulai berdatangan baik terhadap keluarga Bpk. Stevanus Sri Sugiarto maupun kepada Jemaat POSPEL Jonggol bahkan hingga muncul bermacam teguran dari pihak pegawai Desa Cipeucang, namun keluarga Bpk. Stevanus Sri Sugiarto tetap bersikeras mempertahankan peternakannya dan menolak untuk pindah.

Akhirnya Pemerintah Desa Cipeucang melayangkan Surat Peringatan dengan No. 451.2/74 berdasarkan permohonan dari pemilik tanah yang ditujukan kepada Majelis Jemaat POSPEL Jonggol untuk tidak melakukan kegiatan ibadah di tanah tersebut. Maka pihak Majelis meminta kebijakan dari pemilik tanah agar memberikan kesempatan pada Jemaat untuk mencari lahan atau tempat beribadah yang baru. Sejak saat itu ibadah hari Minggu sudah mulai terganggu dan jemaat menjadi resah, bahkan beberapa warga jemaat memilih untuk pindah ke tempat lain. Sedangkan jemaat lainnya dengan melandasi iman yang kokoh kepada Yesus Kristus tetap melaksanakan ibadah di tempat tersebut sambil terus berusaha mencari tempat ibadah yang baru.

Hingga akhir 1990 Jemaat POSPEL Jonggol masih juga belum bisa mendapatkan tempat yang baru untuk beribadah, sedangkan di lain pihak pemilik tanah sudah tidak bisa lagi memberi kesempatan kepada Jemaat yang berujung dengan tragedi pada 17 Februari 1991. Sekitar pukul 02.00 dini hari beberapa orang yang tidak dikenal datang mengepung dan membakar rumah tempat ibadah di peternakan tersebut.

Korban dari pembakaran ini adalah seorang Koster gereja yaitu Sdr. Butje Leiwakabessy yang pada saat itu berusaha menyelamatkan Alkitab Besar di mimbar dari kobaran api dalam rumah ibadah. Korban dirawat di rumah sakit PMI Bogor selama kurang lebih 2 minggu untuk memulihkan luka bakar di punggung, tangan dan kaki yang biaya pengobatannya kemudian ditanggung oleh GPIB Jemaat PETRA Bogor. Sedangkan perkiraan total kerugian materiil sekitar Rp. 1.000.000 dengan beberapa inventaris gereja yang ikut terbakar antara lain:

  • 1 Alkitab besar
  • 1 mimbar dan penutupnya
  • 2 Kidung Jemaat
  • 1 Kidung Ceria
  • 2 kursi kayu
  • 8 kursi lipat
  • 4 taplak meja
  • 1 pohon Natal
  • 1 unit radio 4-band
  • 2 lemari pakaian
  • Semua pakaian dari Sdr. Butje Leiwakabessy

Masa Pemulihan (Periode 1991-1994)

Setelah tragedi pembakaran tersebut kegiatan ibadah Minggu dihentikan selama 2 bulan. Kemudian di bulan yang ke-3 POSPEL Jonggol mulai membuka kembali kegiatan ibadah Minggu yang dilakukan secara bergiliran di rumah-rumah anggota Jemaat, yaitu:

  • Rumah Kel. Bpk. B.L. Tobing di Griya Kenari Mas
  • Rumah Kel. Bpk. Aser Jusak Nureroan di Griya Kenari Mas
  • Rumah Kel. Bpk. Devy Silooy di Pondok Damai
  • Rumah Kel. Bpk. Jakonias Betoky di Pondok Damai
  • Rumah Kel. Bpk. Corneles Komsary di Kp. Raweuy Jonggol
  • Rumah Kel. Bpk. Tumbar Aritonang di Kp. Menan Jonggol
  • Rumah Kel. Bpk. Nikkodemus Letbara di Cibarusa (Ibadah Malam Natal 24 Desember)

Pasca pembakaran tempat ibadah, PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor menyarankan kepada Majelis Jemaat POSPEL Jonggol untuk mencari lahan yang dapat digunakan sebagai bakal tempat ibadah. Bersamaan dengan itu jemaat melakukan usaha pencarian dana untuk pembelian tanah antara lain dengan cara:

  1. Berdagang keliling dari jemaat ke jemaat di wilayah Bogor dan Depok dengan menawarkan gantungan baju (hanger) sumbangan dari Sdr. Elisabeth Noya yang ketika itu bekerja sebagai karyawan pabrik plastik di Gunung Putri.
  2. Melibatkan pemuda dalam mengolah berbagai bentuk kerajinan tangan berbahan dasar plastik seperti kotak perhiasan dan aksesoris Natal (home industry) yang hasilnya disumbangkan ke Kas Gereja (POSPEL Jonggol).

Berdasarkan saran dari PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor, maka pengurus POSPEL Jonggol mencari lahan di sekitar tempat ibadah yang lama dan diperoleh informasi dari masyarakat sekitar bahwa terdapat sebidang tanah yang akan dijual di Jl. Raya Cileungsi-Jonggol Km. 15 Desa Cipeucang (yang digunakan hingga saat ini) dengan luas tanah +/- 1200 m2 dan pemiliknya adalah seorang warga keturunan Tionghoa yang berdomisili di Jakarta. Setelah diinformasikan ke PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor maka proses berikutnya langsung ditindaklanjuti melalui komunikasi dengan pemilik tanah yang ternyata beragama Kristen Protestan bernama Swaan, dan membenarkan bahwa tanah tersebut akan dijual. Dengan pertimbangan pembelian tanah untuk tempat ibadah, yang bersangkutan merespon positif dan bahkan menurunkan dari harga NJOP dengan syarat tanah harus benar-benar diperuntukkan sebagai tempat rumah ibadah, sehingga disepakati harga tanah senilai lebih dari Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan langsung ditawarkan kepada Jemaat POSPEL Jonggol.

Dari hasil pencarian dana jemaat ternyata masih belum mencukupi untuk membayar tanah tersebut, sehingga salah satu keluarga kemudian bersedia menjadi donatur, yaitu Kel. Junus Samuel Momot. Dan meskipun dananya masih belum mencukupi juga namun hasilnya langsung diserahkan ke PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor melalui Ketua IV dan selanjutnya proses jual-beli tanah dilakukan oleh PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor dalam hal ini Akta Jual Beli dibuat atas nama Supardji D.H.W. selaku Ketua IV PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor dan kemudian pengelolaan tanah diserahkan kepada jemaat POSPEL Jonggol.

Setelah memiliki tanah tersebut, warga jemaat secara swadaya mulai membangun tempat ibadah di lahan itu dengan bentuk semi permanen, namun pada awal pembangunan sudah diperhadapkan dengan tantangan dari warga sekitar yang mencabut patok-patok pondasi dan hal tersebut berulang kali terjadi. Dengan kondisi demikian Majelis Jemaat melaporkan ke PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor, lalu PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor menindaklanjuti dengan mendatangkan aparat keamanan dari wilayah Bogor untuk menemui Kepala Desa dan pemuda warga sekitar agar tidak mengganggu pekerjaan pembangunan. Ketika itu terjadi kesepakatan antara Kepala Desa dan pemuda sekitar sehingga pekerjaan pembangunan tempat ibadah dapat dilanjutkan kembali sementara Majelis Jemaat mengurus ijin lingkungan dengan mengumpulkan tanda tangan warga sekitar dan terkumpul +/- 12 KK yang memberikan tanda tangan.

Pembangunan tempat ibadah semi permanen dengan ukuran 8 x 12 m2 berlangsung selama +/- 5 bulan sampai dengan bulan Oktober 1992. Kemudian dilakukan ibadah perdana di tempat baru tersebut dengan dipimpin oleh KMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor yaitu Pdt. Jan Dominggus Tuasuun, S.Th. Jumlah jemaat POSPEL Jonggol saat itu mencapai 33 kepala keluarga dengan 103 jiwa.

Setelah itu kegiatan pelayanan dan ibadah dapat kembali berjalan dengan baik tanpa ada gangguan maupun hambatan dari lingkungan dan warga sekitar pun mulai menerima keberadaan bangunan tersebut sebagai tempat ibadah. Kemudian Pdt. Nn. Maria (Dina) Tabitha Halattu, M.Th ditugaskan untuk menggantikan Pdt. Jan Dominggus Tuasuun, S.Th melalui mutasi pendeta. Unit-Unit Misioner mulai dibentuk dan perangkat Majelis diperlengkapi dengan peneguhan kembali serta penambahan beberapa Majelis baru:

  1. Pnt. Corneles Komsary (Ketua Koordinasi POSPEL)
  2. Pnt. Melianus Rangkoratat (Sekretaris POSPEL)
  3. Pnt. Rudy Leonard Noya (Bendahara POSPEL)
  4. Dkn. Johan Manakutty (Koordinator Bidang BPK)
  5. Dkn. Ny. Veronika Nureroan - Sambonu
  6. Dkn. Minter Aritonang

Kemudian terpilih juga beberapa anggota jemaat sebagai tenaga pengajar dan pelayan di BPK (sekarang disebut PELKAT), antara lain:


Peneguhan Sidi Pertama di Cipeucang (1995)

Kegiatan pelayanan bertumbuh dengan baik setelah didirikannya tempat ibadah yang baru di Desa Cipeucang. Pada tanggal 2 April 1995 dilakukan Ibadah Peneguhan Warga Sidi Jemaat yang dilayani oleh Pdt. Nn. Maria (Dina) Tabitha Halattu, M.Th terhadap 9 orang katekisan:

  1. Sdri. Risa Lenci Masombe
  2. Sdri. Dorce Rowen Chatrin Nureroan
  3. Sdri. Rauly Aritonang
  4. Sdri. Riowaty Aritonang
  5. Sdri. Rosinda Samosir
  6. Sdr. Agustinus Kormatias Komsary
  7. Sdr. Frins Lotdra Malisngorar
  8. Sdr. Mesakh Watulawar
  9. Sdr. Johanes Gergora

Adapun pengajar katekisasi yang membina mereka antara lain:

  1. Pnt. Melianus Rangkoratat
  2. Pnt. Corneles Komsary
  3. Pnt. Rudy Leonard Noya
  4. Dkn. Johan Manakutty
  5. Ev. Christianto Risyanto

Dengan diteguhkannya sidi baru tersebut maka kegiatan pelayanan BPK-GP (Gerakan Pemuda) mulai dilakukan. Sdri. Elisabeth Noya ditugaskan menjadi Ketua BPK-GP merangkap Ketua BPK-PT.


Perbaikan Gedung Gereja Cipeucang (Periode 1995-1996)

Pada bulan Juni 1995 ditempatkanlah Vikaris Yorinawa Salawangi, S.Th di GPIB Jemaat PETRA Bogor yang kemudian membantu proses renovasi dan pembangunan gedung gereja di Cipeucang agar menjadi bangunan permanen yang lebih besar dengan didukung seorang Donator dan juga setelah melalui beberapa kali proses pembahasan renovasi oleh Majelis POSPEL Jonggol.

Ibadah Peletakan Batu Pertama dipimpin dan dilayani oleh Pnt. Corneles Komsary dan secara simbolis dilakukan peletakan batu oleh seorang jemaat yang dituakan yaitu Bpk. Nikkodemus Letbara; dengan dihadiri dan disaksikan oleh Vikaris dan Jemaat. Setelah itu pembangunan pun dilanjutkan hingga mencapai tahap akhir pengerjaan atap di bulan Agustus 1995, akan tetapi tiba-tiba datang surat teguran dari Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kawedanan Jonggol terkait Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang belum dipenuhi. Dengan demikian proses pembangunan pun dihentikan sementara sambil menunggu penyelesaian pengurusan IMB dengan bantuan dari Majelis GPIB Jemaat PETRA Bogor.

Hampir kurang lebih 1 tahun jemaat POSPEL Jonggol melakukan kegiatan pelayanan dengan kondisi tempat ibadah yang belum bisa digunakan sepenuhnya sambil menunggu kepastian dari pengurusan IMB oleh Majelis GPIB Jemaat PETRA Bogor. Namun di tengah proses pengurusan IMB tersebut terjadi pergantian KMJ di GPIB Jemaat PETRA Bogor dari Pdt. Nn. Maria (Dina) Tabitha Halattu, M.Th kepada Pdt. Hendrik Loley Tiwow, S.Th yang kemudian melanjutkan proses pengurusan IMB tersebut.

Pada bulan Agustus 1996 kegiatan ibadah Minggu di Cipeucang sepenuhnya dihentikan oleh Majelis GPIB Jemaat PETRA Bogor untuk memudahkan proses pengurusan IMB yang memerlukan persetujuan dari masyarakat sekitar. Dan 3 bulan kemudian Ibadah Minggu mulai dibuka kembali atas permintaan warga jemaat POSPEL Jonggol dengan melaksanakannya secara bergiliran di rumah-rumah jemaat.


GPIB Jemaat PENGHARAPAN Cibinong (Periode 1986-1996)

Sementara itu di sisi lain cikal bakal warga jemaat di Cileungsi yang merupakan kelanjutan dari persekutuan Badan Musyawarah Karyawan PT. Semen Cibinong Seksi Kerohanian Kristen terus mengalami pertumbuhan hingga terdapat 16 keluarga pada tahun 1984:

  1. Kel. D.I. Pottu
  2. Kel. T.F. Terok
  3. Kel. Pangkei
  4. Kel. S. Rapok
  5. Kel. Y. Rupek
  6. Kel. Y. Kawengian
  7. Kel. Soburian
  8. Kel. Bambang Sadarusalam
  9. Kel. Nurwe
  10. Kel. Edy Haryanto
  11. Kel. Sinaga
  12. Kel. C.M.C. Tauran
  13. Kel. Pelupessy
  14. Kel. Yunus Timang
  15. Kel. Da Costa
  16. Kel. Karel Yohanes Leimena

Jemaat tersebut terus berkembang hingga pada tahun 1986 GPIB ZEBAOTH Bogor melembagakan GPIB PENGHARAPAN Cibinong, dan dengan demikian mengikutsertakan jemaat karyawan PT. Semen Cibinong tersebut menjadi bagian dari Sektor Pelayanan VIII yang mencakup daerah Cileungsi dan Gunung Putri. Kemudian pada tahun 1988 diteguhkan Majelis Jemaat Sektor VIII sekaligus sebagai pengurus sektor:

  1. Dkn. Karel Yohanes Leimena (Koordinator Sektor)
  2. Pnt. Willem Romroma (Seksi Ibadah)
  3. Pnt. Ny. Ani Terok (Bendahara)
  4. Dkn. P.H. Karubun (Koordinator BPK)

Pada tahun 1994 dilakukan kembali peneguhan 8 orang Majelis Jemaat untuk Sektor VIII dan 2 orang diantaranya terpilih menjadi PHMJ di GPIB PENGHARAPAN Cibinong yaitu Pnt. Willem Romroma sebagai Ketua I dan Pnt. Karel Yohanes Leimena sebagai Ketua IV. KMJ saat itu adalah Pdt. I.T. Kosakoy, S.Th.


Proses Menuju Unifikasi 2 Jemaat Cileungsi-Cipeucang (Periode 1997-2000)

Ditempatkannya Vikaris Yorinawa Salawangi, S.Th di POSPEL Jonggol yang kemudian ditahbiskan sebagai Pendeta GPIB pada tahun 1997 ternyata semakin memudahkan pendekatan dan mediasi yang terjadi antara Jemaat di POSPEL Jonggol dengan Jemaat Sektor VIII GPIB PENGHARAPAN Cibinong di Cileungsi untuk menuju proses penyatuan kedua jemaat walaupun telah melalui berbagai hambatan dan rintangan dalam menyatukan dua jemaat dengan latar belakang dan kondisi pergumulan yang berbeda itu.

Pada 25 Desember 1997 dilaksanakan Ibadah Perayaan Natal gabungan di gedung gereja Cipeucang yang masih belum selesai pengerjaan atapnya, dipimpin oleh Pnt. Melianus Rangkoratat. Ibadah itu dihadiri oleh kedua Jemaat Cileungsi dan Cipeucang, dari jemaat Cileungsi ada Dkn. Simon Rahabeat yang juga bertugas dalam ibadah tersebut, sedangkan Perayaan Natal Anak diadakan di rumah Kel. Bpk. Devi Silooy di Cileungsi.

Ibadah Minggu kemudian terus dilakukan meskipun dalam keadaan gedung yang belum beratap dan dibayang-bayangi kekhawatiran akan adanya ancaman gangguan keamanan dari pihak luar yang menuntut penyelesaian IMB, hingga akhirnya pada bulan Maret 1998 PHMJ GPIB Jemaat PETRA Bogor memutuskan untuk menghentikan kembali Ibadah Minggu di gedung gereja Cipeucang sebab tekanan dan ancaman yang terjadi semakin meningkat seiring juga dengan gejolak Krisis Moneter dan Sosial 1997-1998 yang melanda Indonesia, bahkan jemaat pun menjadi takut untuk melaksanakan ibadah-ibadah di rumah.

Dalam kondisi seperti itu maka keinginan jemaat di Cipeucang untuk menuju proses penyatuan dengan Jemaat Sektor VIII di Cileungsi pun semakin kuat. Pada tanggal 31 Desember 1997 diadakan pertemuan antara Majelis POSPEL Jonggol GPIB Jemaat PETRA Bogor dengan Majelis Sektor VIII GPIB PENGHARAPAN Cibinong di rumah Kel. Bpk. Samidi Cahyo untuk merencanakan proses penyatuan kedua jemaat tersebut yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Kerja Bakal Jemaat (BAJEM) Cileungsi - GPIB PENGHARAPAN Cibinong dan ditugaskannya Pdt. George Abraham Kountul, S.Th untuk mempersiapkan bakal jemaat tersebut menuju jemaat yang mandiri.


GPIB Jemaat DAMAI SEJAHTERA Cileungsi (Periode 2000-2017)

Setelah BAJEM Cileungsi yang merupakan penggabungan dari kedua jemaat POSPEL Jonggol GPIB Jemaat PETRA Bogor dengan Sektor VIII GPIB PENGHARAPAN Cibinong tersebut dilembagakan menjadi GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi pada 2 Januari 2000, warga jemaat di Cipeucang kian berkembang dan bertumbuh dalam Pelayanan dan Kesaksian menjadi beberapa Sektor Pelayanan bersama-sama dengan warga jemaat di Cileungsi dalam satu kesatuan persekutuan jemaat yang saling melayani.

Di awal perkembangannya GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi melakukan kegiatan ibadahnya di 2 tempat untuk Ibadah Minggu, yaitu di rumah Kel. T.F. Terok di Perum PTSC dan juga di gedung gereja Cipeucang yang masih terus dilakukan perbaikan/renovasi dan dilengkapi proses perijinannya. Setelah itu GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi menyewa sebuah ruko di Mall Cileungsi (sekarang Cileungsi Trade Center / CTC) sebagai kantor sekretariat Majelis Jemaat dan juga tempat beribadah. Selain itu kegiatan ibadah di rumah jemaat juga terbagi dalam 5 Sektor Pelayanan:

  1. Sektor Paulus (wilayah Perum PTSC, Cileungsi Elok, Cileungsi Permai dan sekitarnya)
  2. Sektor Petrus (wilayah Klapanunggal-Nambo, Babakan-Dayeuh, Perum Griya Kenari Mas dan sekitarnya)
  3. Sektor Yakobus (wilayah Kampung Sawah, Perum Pondok Damai, Cileungsi Hijau, Cileungsi Indah dan sekitarnya)
  4. Sektor Yohanes (wilayah Jonggol, Cipeucang, Gandoang dan sekitarnya)
  5. Sektor Titus (wilayah sebelah utara dari Sektor Paulus hingga Desa Limus Nunggal dan sekitarnya

Di tahun-tahun berikutnya seiring dengan pertumbuhan jemaat maka mulai dilakukan pemekaran dari beberapa Sektor Pelayanan:

  1. 2001: Sektor Timotius (wilayah Perum Limus Pratama, sebagian Kota Wisata dan sekitarnya)
  2. 2002: Sektor Filemon (wilayah Pangkalan II, Yon Armed hingga mendekati Bantargebang dan sekitarnya)
  3. 2002: Sektor Filipus (wilayah Perum Citra Indah Jonggol)
  4. 2008: Sektor Apholos (wilayah Kampung Sawah, Perum Kota Taman Metropolitan/Metland dan Harvest City)
  5. 2010: Sektor Teofilus (wilayah Desa Gandoang, Bojong, sebagian Klapanunggal dan sekitarnya)

Pada tahun 2010 Sektor Timotius juga sempat dimekarkan menjadi Sektor Thomas dengan wilayah pelayanan meliputi sebagian dari Kota Wisata Cibubur, namun kemudian terjadi perkembangan di jemaat setempat untuk mengarah pada pembentukan jemaat GPIB baru yang merupakan penggabungan dari 3 Sektor Pelayanan di 3 jemaat GPIB, yaitu GPIB Jemaat AGAPE Cibubur, GPIB Jemaat BAHTERA KASIH Kranggan, dan tentunya GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi sendiri yang pada akhirnya berhasil dilembagakan menjadi GPIB Jemaat TRINITAS Cibubur pada tanggal 22 Agustus 2010 dengan jumlah jemaat 86 kepala keluarga dan 291 jiwa.


Perintisan Bakal Jemaat (BAJEM) Cipeucang (Periode 2011-2012)

Memasuki tahun 2011, dengan kondisi jemaat yang terus berkembang sebanyak +/- 444 KK di mana 144 KK (35%) diantaranya adalah jemaat yang berdomisili di wilayah Jonggol dan sekitarnya, juga tempat ibadah di Cipeucang yang sudah berstatus Gedung Serba Guna (GSG) berdasarkan Surat Keputusan Pembantu Bupati Wilayah Jonggol No. 648.11/101-JGL/1999 serta dimulainya pembangunan tempat ibadah di lahan yang baru di Kampung Pasar Lama Cileungsi maka jemaat di wilayah Jonggol dan sekitarnya berinisiasi mengusulkan untuk melakukan pengembangan di 3 Sektor Pelayanan Yohanes, Filipus dan Teofilus. Hal ini kemudian mendapat respon yang positif dari Majelis Jemaat GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi dengan menugaskan Komisi ORKOM-Litbang di bawah koordinasi Bpk. Nikolas Nahesjon Trigano Salamate dan dalam arahan Pnt. Simon Rahabeat selaku Ketua II PHMJ dan Pnt. Franklin E. Mandang sebagai Sekretaris I PHMJ untuk mengadakan penelitian dengan metode pengisian angket/kuesioner kepada jemaat di Sektor Yohanes, Filipus dan Teofilus pada bulan November 2011 hingga Januari 2012 maka hasilnya dapat disimpulkan bahwa dari 171 responden yang mengisi kuesioner, 156 diantaranya karena berbagai faktor seperti jarak, lokasi, akses/transportasi dan efektivitas pelayanan memilih untuk beribadah di GSG Cipeucang, sedangkan 15 orang lainnya memilih untuk beribadah di Mall Cileungsi/Pasar Lama.

Sebagai tindak lanjut dari hasil kuesioner tersebut maka pada Sidang Majelis Jemaat Triwulan III tanggal 21 Januari 2012 di GSG Cipeucang yang dipimpin oleh KMJ Pdt. Darius Leiwakabessy, S.Th, M.Min diputuskan untuk meningkatkan status 3 Sektor Pelayanan Yohanes, Filipus dan Teofilus menjadi Bakal Jemaat (BAJEM) Cipeucang.

Selanjutnya pada Sidang Majelis Jemaat Triwulan IV tanggal 27-28 April di Villa Saiya Cipayung - Bogor ditetapkan Surat Rekomendasi untuk proses persiapan tahapan-tahapan pembinaan menuju pendewasaan BAJEM Cipeucang yang dirumuskan dalam Program Kerja dan Anggaran 2012/2013 melalui Panitia Penyusunan Program Kerja dan Anggaran di bawah koordinasi Pnt. Reinhart Laisina selaku Ketua Panitia, dan kemudian setelah disahkan ditandatangani oleh Sekretaris PHMJ Pnt. Samuel J. Louhenapessy dan Pnt. Willem Romroma selaku Pelaksana Tugas menggantikan KMJ (Pdt. Darius Leiwakabessy, S.Th, M.Min) yang sedang dalam proses mutasi pendeta.


Proses Menuju Pendewasaan BAJEM Cipeucang (Periode 2012-2017)

Berbagai kegiatan dalam kebersamaan jemaat di 3 Sektor Pelayanan BAJEM Cipeucang terus ditingkatkan dari tahun ke tahun, seiring dengan ditempatkannya Pdt. Ny. Erika Mataheru - Tataung, S.Si-Teol sebagai Pendeta Jemaat di GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi yang kemudian ditugaskan secara khusus dalam membantu proses pendewasaan jemaat di BAJEM Cipeucang. Kegiatan-kegiatan kebersamaan tersebut antara lain:

TAHUN
KEGIATAN
2012Perayaan Natal Gabungan pertama di BAJEM Cipeucang melibatkan Panitia yang berasal dari Sektor Yohanes, Filipus, Teofilus dan Yakobus
2013Pembangunan fasilitas ruang ibadah IHMPA dan pemasangan conblock di GSG Cipeucang secara swadaya oleh jemaat BAJEM Cipeucang
Peringatan Hari Kemerdekaan RI dilakukan secara spontanitas oleh jemaat Sektor Yohanes, Filipus dan Teofilus dengan menggunakan dana swadaya
Kegiatan Olahraga bersama Jemaat dan Jalan Sehat dalam rangka membangun hubungan dengan masyarakat sekitar Cipeucang
Kegiatan Bakti Sosial Pembagian Sembako kepada masyarakat sekitar Cipeucang di Hari Raya Idul Fitri
Perayaan Natal Gabungan (Kelompok II) secara mandiri oleh Sektor Yohanes, Filipus dan Teofilus dengan Pelayan Firman Pnt. Johan Tumanduk selaku Sekretaris II Majelis Sinode XIX GPIB
2014Rangkaian Kegiatan menyambut Paskah 2014:
  1. Kebaktian Penyegaran Iman tingkat jemaat oleh Panitia Paskah BAJEM Cipeucang (Kelompok II)
  2. Lomba-Lomba dan Olahraga di GSG Cipeucang
  3. Pemberian Santunan kepada anak yatim piatu melalui pemerintah desa yang diserahkan kepada Kepala Desa Cipeucang
  4. Perayaan Paskah secara mandiri oleh jemaat BAJEM Cipeucang di di Wisma Brendita Kranggan
Peringatan Hari Kemerdekaan RI dengan melaksanakan berbagai lomba tingkat anak-anak, remaja, pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak sebagai kegiatan spontanitas jemaat BAJEM Cipeucang, serta pemberian sumbangan untuk pembangunan tempat ibadah masyarakat sekitar Cipeucang.
Kegiatan Coffe Morning setelah Ibadah Minggu
Penambahan fasilitas dan tempat ibadah berupa ruang ganti Pendeta, meja rapat, AC, genset, torrent air, perangkat video, monitor display, 2 unit komputer Sekretariat, sound system, dan fasilitas olahraga (meja pingpong) secara swadaya oleh jemaat BAJEM Cipeucang
Kegiatan Bakti Sosial Pembagian Sembako kepada masyarakat sekitar Cipeucang di Hari Raya Idul Fitri
Rangkaian Kegiatan Perayaan Natal 2014 Kelompok II BAJEM Cipeucang:
  1. Kunjungan Kasih kepada jemaat yang perlu mendapat perhatian
  2. Pemberian Santunan kepada anak yatim piatu melalui pemerintah desa yang diserahkan kepada Kepala Desa Cipeucang
  3. Bantuan renovasi atap rumah bagi jemaat janda yang kurang mampu
  4. Ibadah dan Perayaan Natal dengan melibatkan peran PELKAT PA dan PELKAT PT
Kegiatan Kerja Bakti di GSG Cipeucang yang dilaksanakan tiap minggu sepanjang tahun 2014
2015Silahturahmi antar keluarga Sektor Teofilus, Filipus dan Yohanes di tempat Pemancingan Kel. Bpk. Togar Oloan Siahaan
Peringatan Hari Kemerdekaan RI dengan lomba-lomba setelah ibadah di GSG Cipeucang
2016Ibadah dan Perayaan Paskah Jemaat BAJEM Cipeucang di Taman Buah Mekarsari yang dilayani oleh Pelayan Firman Pdt. Marthinus Tetelepta, S.Th, M.Min selaku Ketua I Majelis Sinode XIX GPIB
Pembentukan dan Pelayanan Paduan Suara Jemaat BAJEM Cipeucang "Blessing Choir"
2017Perayaan Natal 2016 Jemaat 3 Sektor BAJEM Cipeucang secara mandiri di GSG Cipeucang

Persiapan Pelembagaan BAJEM Cipeucang (Periode 2015-2017)

Setelah Sidang Majelis Jemaat Triwulan III di bulan Januari 2015 menetapkan Pnt. Apholos Riung sebagai Koordinator Penghubung BAJEM Cipeucang, maka pada tanggal 1 Februari 2015 dilakukan Rapat Persiapan Pelembagaan BAJEM Cipeucang GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi di GSG Cipeucang yang dipimpin oleh Pnt. Apholos Riung dengan Sekretaris Pnt. Ny. Evy Pieter - Simanjuntak dan menghadirkan Pnt. Willem Romroma sebagai Narasumber. Rapat tersebut dihadiri oleh 19 orang yang terdiri dari Koordinator Sektor, Majelis Jemaat, perwakilan Komisi INFORKOM dan tokoh Jemaat lainnya di BAJEM Cipeucang:

  1. Bpk. Apholos Riung
  2. Ibu Evy Pieter - Simanjuntak
  3. Bpk. Willem Romroma
  4. Bpk. Nikolas Nahesjon T. Salamate
  5. Bpk. Djausin Nainggolan
  6. Bpk. Corneles Komsary
  7. Bpk. Johan Manakutty
  8. Bpk. Tommy Tjuria
  9. Bpk. Andreas Nanang Hendriyanto
  10. Bpk. Adi Witjahjo
  11. Bpk. Sukirno
  12. Bpk. Jeckson Siallagan
  13. Bpk. Darius
  14. Ibu Jamilah Lalenoh
  15. Ibu Seska Susan Salamate - Lahinda
  16. Bpk. Yohanes Musa Lumapelu
  17. Ibu Dorce Rowen Chatrin Rasumpada - Nureroan
  18. Ibu Theresia F. Malisngorar - Lobloby
  19. Sdr. Titus Anindya Paritusta

Adapun hasil dari pertemuan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Membentuk Tim 7 "Pitulungan" yang bertugas antara lain untuk melakukan pengumpulan data jemaat (jumlah kehadiran jemaat dalam ibadah-ibadah) dan juga melakukan pencatatan arus kas keuangan jemaat BAJEM Cipeucang dalam ibadah-ibadah secara terpisah. Tim tersebut beranggotakan:
    1. Bpk. Apholos Riung
    2. Ibu Evy Pieter - Simanjuntak
    3. Bpk. Nikolas Nahesjon T. Salamate
    4. Bpk. Sukirno
    5. Bpk. Adi Witjahjo
    6. Bpk. Darius
    7. Ibu Dorce Rowen Chatrin Rasumpada - Nureroan
  • Mendorong usulan pengadaan Pendeta Jemaat pada SMJ Triwulan IV 2014-2015 untuk membantu persiapan Pelembagaan BAJEM Cipeucang
  • Menentukan struktur kepengurusan Majelis dan PHMJ di BAJEM Cipeucang

Setelah itu Tim 7 tersebut mulai bekerja dengan dibantu oleh Majelis beserta Unit-Unit Misioner yang ada di BAJEM Cipeucang dalam mempersiapkan proses Pelembagaan mulai dari perpanjangan Surat Keterangan Tanda Lapor di Kementrian Agama Kanwil Propinsi Jawa Barat dengan No. Kw.10.8/BA.01.1/0802/2015 pada tanggal 9 Februari 2015, hingga memasuki 2016 Pdt. Ny. Wasty Ivone Stevia Uktolseja - Magany, S.Th diutus sebagai Pendeta Jemaat di GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi untuk membantu tugas pelayanan KMJ Pdt. Hendra Benjamin Dinata Dores, S.Th

Dalam pengesahan Program Kerja 2016-2017 di Sidang Majelis Jemaat Triwulan IV atas kepercayaan Jemaat Induk GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi maka bidang pembinaan dan pencatatan keuangan jemaat kemudian dipisah agar Jemaat BAJEM Cipeucang dapat mulai belajar mengelola kegiatan pelayanan secara mandiri, termasuk kegiatan persiapan Presbiter dan PELKAT yang juga terpisah dari Jemaat Induk.

Pada 1 Mei 2016 juga dilaksanakan kegiatan Pembinaan Persiapan Pendewasaan Jemaat dengan pembicara dari Ketua Umum Majelis Sinode XX GPIB Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si dan Bendahara I Majelis Sinode XX GPIB Dkn. Eddy Maulana Soei Ndoen bagi seluruh komponen jemaat di 3 Sektor Yohanes, Filipus dan Teofilus yang kemudian turut membekali pemahaman jemaat dalam semangat memperjuangkan proses pemandirian BAJEM Cipeucang.

Pada tanggal 2 Juni 2016, Tim 7 melalui Pnt. Apholos Riung selaku Penghubung mengajukan pembentukan Panitia Pelembagaan BAJEM Cipeucang kepada PHMJ GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi dengan susunan sebagai berikut:


Berdasarkan pengajuan pembentukan Panitia Pelembagaan tersebut kemudian Majelis Sinode XX GPIB menindaklanjuti dengan mengeluarkan Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB No. 778/VIII/-16/MS.XX/Kpts pada 30 Agustus 2016 yang menetapkan Panita Persiapan Pelembagaan BAJEM CIPEUCANG GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi; yang setelah itu dilanjutkan dengan Pengarahan kepada Panitia Pelembagaan tersebut pada tanggal 8 Oktober 2016 oleh Ketua IV Majelis Sinode XX GPIB Pnt. Adrie P.H. Nelwan di Rumah Doa Pasar Lama Cileungsi.

Pada tanggal 23 Oktober 2016 kembali dilakukan Rapat Pleno Panitia Pelembagaan yang beragendakan pengaraharan dari KMJ Pdt. Hendra Benjamin Dinata Dores, S.Th dan dilanjutkan penyampaian serta pembagian tugas-tugas Panitia Pelembagaan oleh Pnt. Apholos Riung

Dengan disahkan dan diperlengkapinya Panitia Pelembagaan tersebut maka berbagai kegiatan mulai dari penggalangan dana jemaat melalui aksi-aksi dana hingga persiapan kelengkapan administratif dan materiil pun dapat dilakukan secara efektif termasuk mempersiapkan kepengurusan Unit-Unit Misioner yang baru, persiapan pengadaan rumah Pastori serta kendaraan operasional dan perekrutran calon karyawan kantor Sekretariat Majelis Jemaat.

Pada Ibadah dan Perayaan Natal 2016 di GSG Cipeucang yang dipimpin oleh Pelayan Firman Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si juga dilaksanakan pembukaan proses polling / pemungutan suara melalui SMS Gateway untuk menentukan nama bagi Jemaat baru BAJEM Cipeucang yang akan dilembagakan. Polling tersebut kemudian ditutup pada akhir Februari dan didapatkan bahwa dari 11 nama yang diusulkan, yang meraih pilihan terbanyak adalah nama "GPIB Jemaat CIPEUCANG" yang diusulkan berdasarkan pendekatan budaya lokal setelah sebelumnya Tim Penyusunan Sejarah dan Nomenklatur melakukan berbagai penelitian dan pengumpulan data dengan melibatkan para pelaku sejarah pelayanan di BAJEM Cipeucang.

Sementara itu berbagai pembicaraan dan pertemuan terus dilakukan sepanjang Februari hingga Maret 2017 antara Panitia Pelembagaan dengan jemaat induk GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi, Jemaat-Jemaat di Musyawarah Pelayanan (MUPEL) GPIB Jawa Barat II, hingga Majelis Sinode GPIB serta pemerintah dan masyarakat sekitar Cipeucang.

Pada tanggal 1 April 2017 dilaksanakan pertemuan antara PHMJ GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi, Panitia Pelembagaan BAJEM Cipeucang dan dimediasi oleh Pdt. Daniel C. Lumentut, S.Th selaku Ketua BP MUPEL GPIB JABAR II di Sekretariat MUPEL GPIB JABAR II di GPIB IMMANUEL Depok yang membahas penentuan batas-batas wilayah pelayanan GPIB Jemaat CIPEUCANG yang kemudian peta tersebut disahkan dalam pertemuan berikutnya pada pertengahan April 2017 di Rumah Doa Pasar Lama GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi dengan turut dihadiri oleh Pnt. Mangara Pangaribuan selaku Ketua V Majelis Sinode XX GPIB.


Pelembagaan GPIB Jemaat CIPEUCANG sebagai Jemaat ke-323 di GPIB

Setelah melalui perjalanan sejarah pelayanan yang panjang dan mengalami berbagai dinamika persekutuan mulai dari kedatangan Guru-Guru Inpres tahun 1977, pertumbuhan jemaat mula-mula di GKP Cigelam, menjadi bagian dari Pos Pelayanan Jonggol GPIB Jemaat PETRA Bogor, hingga 17 tahun dalam pelayanan bersama menjadi bagian dari GPIB Jemaat "Damai Sejahtera" Cileungsi, akhirnya pada tanggal 30 April 2017 Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja berkenan mengutus hadirnya GPIB Jemaat CIPEUCANG sebagai saksi bagi kemuliaanNya di wilayah pelayanan Cipeucang, Jonggol, Cariu dan sekitarnya melalui Ibadah Penahbisan Gedung Gereja dan Pelembagaan Jemaat yang dipimpin oleh Pelayan Firman Pdt. Marthen Leiwakabessy, S.Th selaku Ketua I Majelis Sinode XX GPIB

Dengan demikian maka GPIB Jemaat CIPEUCANG telah resmi menjadi Jemaat yang 323 di GPIB dengan ditetapkannya Pdt. Ny. Wasty I.S. Uktolseja - Magany, S.Th sebagai Ketua Majelis Jemaat dengan jumlah Presbiter sebanyak 11 orang Diaken dan 12 orang Penatua, serta kondisi jemaat pada saat dilembagakan terdiri dari 6 Sektor Pelayanan:

SEKTOR PELAYANAN
JUMLAH KEPALA KELUARGA
JUMLAH JIWA
Yohanes (kemudian menjadi Sektor I)
58
223
Filipus I (kemudian menjadi Sektor II)
26
100
Filipus II (kemudian menjadi Sektor III)
40
110
Filipus III (kemudian menjadi Sektor IV)
43
159
Teofilus I (kemudian menjadi Sektor V)
27
111
Teofilus II (kemudian menjadi Sektor VI)
25
102
TOTAL
219
805

Dan hingga saat ini GPIB Jemaat CIPEUCANG terus bertumbuh dalam pelayanannya menjawab berbagai tantangan kehidupan jemaat yang bergereja, berbangsa dan bernegara dalam naungan Bahtera Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) untuk mewujudkan Visi GPIB "Menjadi Gereja yang Mewujudkan Damai Sejahtera Allah bagi Seluruh CiptaanNya"



Dokumen Selayang Pandang ini disusun berdasarkan:

  1. Buku "SELAYANG PANDANG SEJARAH GEREJA" GPIB Jemaat DAMAI SEJAHTERA Cileungsi yang dibuat atas Surat Keputusan Majelis Jemaat No. 009/2001/MJ-DS/PPSG dengan 9 orang Majelis anggota Tim Perumus, tahun 2001
  2. Penyempurnaan buku "SELAYANG PANDANG SEJARAH GEREJA" oleh Tim Penyusunan Sejarah dan Nomenklatur BAJEM Cipeucang melalui penelitian dan penelusuran data sejarah pelayanan, tahun 2016
  3. Penyempurnaan serta dokumentasi hasil penelitian Tim Penyusunan Sejarah dan Nomenklatur BAJEM Cipeucang oleh Komisi INFORKOM GPIB Jemaat Cipeucang dalam rangka pembuatan Website gpibcipeucang.org, tahun 2018

    GEREJA PROTESTAN di INDONESIA bagian BARAT
    ( G . P . I . B )
    Jemaat "CIPEUCANG" Jonggol
    Jl. Raya Cileungsi - Jonggol Km. 15, Bogor - 16820
    Telp. 021-22949212 | Email: [email protected]
    No. Rek. Bank BJB: 0093925912100 a/n GPIB JEMAAT CIPEUCANG

GPIB Cipeucang